Jumat, 02 April 2010

Revolusi Biru


Laut merupakan sumber daya alam yang cukup besar. Dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan protein yang tidak hanya didapat dari hewan darat tetapi juga hewan laut.
Untuk meningkatkan sumber daya alam di lautan, maka dilaksanakan revolusi biru. Jadi dengan kata lain revolusi biru ialah pengembangan teknologi pemanfaatan sumber daya hayati laut, guna memenuhi kebutuhan pangan manusia.
Sumber daya alam dari laut dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu sumber daya alam hayati dan non hayati. Sumber daya alam hayati adalah sumber daya yang berasal dari mahluk hidup, misalnya:
1.       Jenis tumbuhan meliputi alga (rumput laut) yang dapat diolah menjadi agar-agar dan sumber karbohidrat.
2.       Jenis hewani, misalnya ikan, kerang, mutiara, dan bangsa udang-udangan yang menyimpan protein tinggi. Banyak jenis ikan yang dimanfaatkan sebagaipemenuh kontumsi manusia. Khusus kerang mutiara merupakan sumber daya laut yang sangat potensial
Sumber non hayati, yang terdiri dari
1.       Air laut yang banyak mengandung Mg dan NaCl.
2.       Nodul di dasar laut yang berupa endapan Mn, Ni, Co, Cu, Au, dan Zn yang sangat dibutuhkan bagi industry.
3.       Energy, merupakan sumber daya yang potensial untuk pembangkit listri dan sebagainya.
Usaha-usaha atau tindakan yang dilakukan dalam revolusi biru misalnya:
1.       Membersihkan permukaan laut dari kotoran berupa cairan minyak, limbah beracun dan pencemaran lainnya.
2.       Menghindari penangkapan ikan yang tak kenal batas dan menciptakan undang-undang perlindungan.
3.       Melarang penggunaan alat yang dapat membahayakn orgnisme laut.

Sistem Regulasi Manusia

System regulasi pada manusia terdiri dari sistem saraf, sitem endokrin/hormon, dan indra. Sistem saraf bekerja cepat dalam menganggapi perubahan, sedangkan sistem hormon bekerja lambat dalam. Indra adalah reseptor rangsang dari luar.
Sistem saraf terdiri dari sel-sel saraf (neuron). Sel saraf terdiri dari badan sel, inti sel, akson, dendrit, selubung myelin, sel Schwann, dan nodus ranvier. Sel saraf yang berfungsi menerima rangsang (reseptor) disebut saraf sensori. Sel saraf yang membawa rangsang dari otak menuju ke efektor disebut saraf motori. Sedangkan sel saraf yang menghubungkan neuron sensori dan neuron motori disebut neuron intermediat.
Penghantaran impuls pada sel saraf dapat terjadi melalui dua cara, yaitu melalui perubahan muatan listrik pada sel saraf dan melalui sinapsis gerakan ada manusia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gerak biasa dan gerak refleks. Pada gerak biasa, rangsang melalui jalur neuron sensori-interneuron-otak-neuron motori-efektor.sedangkan gerak refleks tidak melalui otak tetapi melalui sumsum tulang belakang.
Sistem saraf dibagi menjadi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Otak terbagi menjadi otak besar (serebru), otak kecil (serebelum), jembatan varol, dan medulla oblongata (sumsum lanjutan). Setiap bagian otak memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam mengatur kerja tubuh. Otak besar berfungsi sebagai pusat kesadaran, kecerdasan, ingatan, kenisfan, dan interpretasi kesan. Otak kecil sebagai pusat keseimbangan dan koordinasi motor/gerakan. Medulla oblongata berfungsi untuk mengatur denyut jantung, tekanan darah, gerakan pernafasan, sekresi ludah, menelan, gerak peristaltik, batuk, dan bersin.
Sistem saraf tepi merupakan sistem saraf yang berasak dari saraf-saraf yang keluar dari otak dan sumsum tulang belakang. Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf simpatetik dan parasimpatetik. Kerja kedua sistem saraf ini selalu berlawanan antagonis).
Sistem endokrin (hormon) pada manusia terdiri dari kelenjar-kelenjar endokrin, yang terdiri dari kelenjar hipofisis, pineal, hipotalamus, tiroid, paratiroid, timus, adrenal, pancreas, dan kelamin (testis dan ovarium).
Alat indra pada manusia ada lima macam, yaitu indra penglihat (mata), pencium (hidung), pendengar (telinga), pengecap (lidah), peraba dan perasa (kulit).
Reseptor pada mata disebut sel konus (kerucut) dan sel basilus (batang). Reseptor pada rongga hidung adalah sel-sel olfaktori. Reseptor pada teminga adalah organ korti. Reseptor pada lidah adalah tunas-tunas pengecap. Reseptor pada kulit adalah korpuskula pacini, ujung saraf ruffini, ujung saraf Krause, dan korpuskula meissner.
Pemakaian narkotika dapat mengganggu kerja sistem saraf. Narkoba dapat digolongkan menjadi stimulan (perangsang, seperti amfetamin dan kokain), depresan (penenag, seperti barbiturat, opium, morfin), dan halusinogen (mempegaruhi persepsi penglihatan dan pendengaran subjek dan juga peningkatan respon emosional.

Senin, 15 Maret 2010

Ocean


These vast bodies of water surrounding the continents are critical to humankind. But overfishing and global warming threaten to leave this vital habitat barren.
The ocean is a continuous body of saltwater that covers more than 70 percent of the Earth's surface. Ocean currents govern the world's weather and churn a kaleidoscope of life. Humans depend on these teeming waters for comfort and survival, but global warming and overfishing threaten to leave the ocean agitated and empty.
Geographers divide the ocean into four major sections: the Pacific, Atlantic, Indian, and Arctic. Smaller ocean regions are called seas, gulfs, and bays, such as the Mediterranean Sea, Gulf of Mexico, and the Bay of Bengal. Stand-alone bodies of saltwater like the Caspian Sea and the Great Salt Lake are distinct from the world's oceans.
The oceans hold about 320 million cubic miles (1.35 billion cubic kilometers) of water, which is roughly 97 percent of Earth's water supply. The water is about 3.5 percent salt and contains traces of all chemical elements found on Earth. The oceans absorb the sun's heat, transferring it to the atmosphere and distributing it around the world via the ever-moving ocean currents. This drives global weather patterns and acts as a heater in the winter and an air conditioner in the summer.
Life began in the ocean, and the ocean remains home to the majority of Earth's plants and animals—from tiny single-celled organisms to the blue whale, the planet's largest living animal.
Most of the ocean's plant life consists of microscopic algae called phytoplankton that float at the surface and through photosynthesis produce about half of the oxygen that humans and all other terrestrial creatures breathe. Seaweed and kelp are big algae easily visible to the naked eye. Marine plants with roots, like sea grasses, can only survive as deep as the sun’s rays can support photosynthesis—about 650 feet (200 meters). Nearly half of the ocean is more than 9,800 feet (3,000 meters) deep.
The deepest reaches of the ocean are largely devoid of life, but biological hotspots appear around places like hydrothermal vents. These chimney-like structures spew gases and mineral-rich water from beneath the Earth's crust. Tube worms, clams, and mussels gather around the vents to feed on heat-loving bacteria. Bizarre fish with sensitive eyes, translucent fangs, and bioluminescent lures lurk about in nearby waters.
Other fish, octopuses, squid, eels, dolphins, and whales ply the open waters while crabs, lobsters, starfish, oysters, and snails crawl and scoot along the ocean bottom. Creatures like jellyfish lack their own way to get around and are mostly left to the whim of the wind and currents. Mammals like otters, walruses, and even polar bears also depend on the ocean for their survival and dip in and out as their biology requires.
Colonies of polyps form coral reefs as they die. The reefs are mostly found in shallow tropical waters and are home to a brilliant mosaic of polyps, plants, and fish. Coral reefs are also visible victims of human activity. Global warming, siltation, pollution, and other phenomena are stressing the corals to death, and over-zealous fishers net more food than the reefs can restore.
Human activities impact nearly all parts of the ocean. Lost and discarded nets continue to lethally snare fish, seabirds, and marine mammals as they drift. Ships spill oil and garbage and transport critters to alien habitats unprepared for their arrival. Mangrove forests are cleared for homes and industry. More than half of the U.S. population lives in coastal areas, spilling garbage and sewage into the ocean. Fertilizer runoff from farms turns vast swaths of the ocean into dead zones, including a New Jersey-size area in the Gulf of Mexico. The greenhouse gas carbon dioxide is turning ocean waters acidic, and an influx of freshwater from melting glaciers threatens to alter the weather-driving currents.
Conservationists urge international protections to protect and replenish dwindling ocean fish stocks and reductions in greenhouse gases to curb global. 

Rain Forest

Incubators of Life

In Brazil, which houses 30 percent of the remaining tropical rain forest on Earth, more than 50,000 square miles of rain forest were lost to deforestation between 2000 and 2005. Biologists worry about the long-term consequences. Drought may be one. Some rain forests, including the Amazon, began experiencing drought in the 1990s, possibly due to deforestation and global warming.
Efforts to discourage deforestation, mainly through sustainable-logging initiatives, are underway on a very limited basis but have had a negligible impact so far.
The rain forest is nearly self-watering. Plants release water into the atmosphere through a process called transpiration. In the tropics, each canopy tree can release about 200 gallons (760 liters) of water each year. The moisture helps create the thick cloud cover that hangs over most rain forests. Even when not raining, these clouds keep the rain forest humid and warm.
Plants in the rain forest grow very close together and contend with the constant threat of insect predators. They have adapted by making chemicals that researchers have found useful as medicines. Bioprospecting, or going into the rain forest in search of plants that can be used in foods, cosmetics, and medicines, has become big business during the past decade, and the amount that native communities are compensated for this varies from almost nothing to a share in later profits.
The National Cancer Institute (NCI) estimates that 70 percent of the anti-cancer plants identified so far are rain forest plants. A new drug under development by a private pharmaceutical company, possibly for treating HIV, is Calanolide A, which is derived from a tree discovered on Borneo, according to NCI.
Many trees and plants, like orchids, have been removed from the rain forest and cultivated. Brazil nut trees are one valuable tree that refuses to grow anywhere but in undisturbed sections of the Amazon rain forest. There, it is pollinated by bees that also visit orchids, and its seeds are spread by the agouti, a small tree mammal.

Senin, 08 Maret 2010

Teori Tentang Terjadinya Makhluk Hidup

KONSEP TENTANG TERJADINYA MAKHLUK HIDUP

Macam-macam pandangan telah dikemukakan mengenai asal mula teriadinya kehidupan di bumi ini. Dari beberapa pendapat, percobaan, dan pengamatan para ahli lahirlah beberapa hipotesis dan teori tentang asal-usul kehidupan.

1. Teori Abiogenesis (Generatio Spontanea)

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh ilmuwan dan filosof Yunani bernama Aristoteles, yang hidup pada tahun 384-322 SM. Aristoteles berpendapat bahwa makhluk hidup terjadi secara spontan (generatio spontanea). Dengan kata lain, makhluk hidup terjadi dengan sendirinya dari benda mati (abiogenesis).

2. Teori Biogenesis

Teori biogenesis merupakan lawan dari teori abiogenesis. Teori ini menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup pula. Tokoh dalam teori biogenesis yang terkenal adalah Fransisco Redy, Lazzaro Spallanzani, dan Louis Pasteur. Ketiganya menyangkal teori abiogenesis.

2.1. Percobaan Fransisco Redy (1688)

Fransisco Redy melakukan suatu percobaan dengan menggunakan sepotong daging yang dimasukkan dalam tiga buah labu.

v Labu pertama diisi sepotong daging, kemudian labu ditutup rapat

v Labu kedua diisi sepotong daging, kemudian labu ditutup dengan kain kasa

v Labu ketiga diisi sepotong daging, dan labu dibiarkan terbuka.

Dari hasil percobaannya tersebut Redy menyimpulkan bahwa jika lalat dicegah agar jangan sampai meletakkan telurnya pada daging, maka makhluk hidup (belatung) tidak akan muncul dari daging tersebut. Jadi, menurut Redy, makhluk hidup berasal dari telur (Omne vivum ex ovo).

2.2. Percobaan Lazzaro Spallanzani (1750)

Dalam percobaan yang dilakukannya, Lazzaro Spallanzani menggunakan tiga buah tabung yang masing-masing diisi dengan air kaldu dan diberi perlakuan sebagai berikut:

v Tabung pertama tidak dipanaskan, lalu ditutup rapat

v Tabung kedua dipanaskan sampai mendidih, lalu dibiarkan terbuka

v Tabung ketiga dipanaskan sampai mendidih, lalu ditutup rapat

Dari hasil percobaannya, Spallanzani menyatakan bahwa apabila kaldu dididihkan kemudian tabung ditutup rapat, maka kaldu tidak akan membusuk sehingga tidak dijumpai makhluk hidup.

2.3. Percobaan Louis Pasteur (1862)

Louis Pasteur berusaha memperbaiki percobaan-percobaan yang telah dilakukan para ahli sebelumnya. la menggunakan labu berbentuk leher angsa (seperti huruf s). Labu percobaan diisi dengan air kaldu, kemudian dipanaskan sampai mendidih. Setelah itu labu ditutup dengan penutup yang mempunyai pipa berbentuk huruf s. Setelah diamati beberapa hari ternyata kaldu dalam labu percobaan tidak berubah.

Dari percobaan itu Pasteur menyimpulkan bahwa kehidupan berasal dari kehidupan lain (Omne vivum ex vivo).

Sel







TEORI TENTANG SEL

1. Scheleiden dan Schwan “sel merupakan unit struktural dari makhluk hidup”

2. Max Schultze “sel merupakan unit fungsional”

3. Rudolf Virchow “sel merupakan unit pertumbuhan “omnis Cellula Cellula

4. Selanjutnya disimpulkan bahwa sel terdiri dari kesatuan zat yang dinamakan Protoplasma. Istilah protoplasma pertama kali dipakai oleh Johannes Purkinje; menurut Johannes Purkinje protoplasma dibagi menjadi dua bagian yaitu Sitoplasma dan Nukleoplasma

5. Robert Brown mengemukakan bahwa Nukleus (inti sel) adalah bagian yang memegang peranan penting dalam sel

ANATOMI DAN FISIOLOGI SEL

Secara anatomis sel dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:

1. Selaput Plasma (Membran Plasma atau Plasmalemma).

2. Sitoplasma dan Organel Sel.

3. Inti Sel (Nukleus).

1. Selaput Plasma (Plasmalemma)

Yaitu selaput atau membran sel yang terletak paling luar yang tersusun dari senyawa kimia Lipoprotein (gabungan dari senyawa lemak atau Lipid dan senyawa Protein).

Lemak bersifat Hidrofebik (tidak larut dalam air) sedangkan protein bersifat Hidrofilik (larut dalam air); oleh karena itu selaput plasma bersifat Selektif Permeabel atau Semi Permeabel (teori dari Overton).

Fungsi dari selaput plasma ini adalah menyelenggarakan Transportasi zat dari sel yang satu ke sel yang lain.

Khusus pada sel tumbuhan, selain mempunyai selaput plasma masih ada satu struktur lagi yang letaknya di luar selaput plasma yang disebut Dinding Sel (Cell Wall).

Dinding sel tersusun dari dua lapis senyawa Selulosa, di antara kedua lapisan selulosa tadi terdapat rongga yang dinamakan Lamel Tengah (Middle Lamel) yang dapat terisi oleh zat-zat penguat seperti Lignin, Chitine, Pektin, Suberine dan Iain-lain.

Selain itu pada dinding sel tumbuhan kadang-kadang terdapat celah yang disebut Noktah. Pada Noktah/Pit sering terdapat penjuluran Sitoplasma yang disebut Plasmodesma yang fungsinya hampir sama dengan fungsi saraf pada hewan.


SISTEM TRANSPORT MELALUI MEMBRAN

1. Transpor pasif

v Osmosis

v Difusi

v Difusi terfasilitasi

2. Transpor aktif

2. Sitoplasma dan Organel Sel

Bagian yang cair dalam sel dinamakan Sitoplasma, khusus untuk cairan yang berada dalam inti sel dinamakan Nukleoplasma), sedang bagian yang padat dan memiliki fungsi tertentu digunakan Organel Sel.

Penyusun utama dari sitoplasma adalah air (90%), berfungsi sebagai pelarut zat-zat kimia serta sebagai media terjadinya reaksi kirnia sel.

Organel sel adalah benda-benda solid yang terdapat di dalam sitoplasma dan bersifat hidup (menjalankan fungsi-fungsi kehidupan).

a. Retikulum Endoplasma (RE)

Yaitu struktur berbentuk benang-benang yang bermuara di inti sel. Dikenal dua jenis RE yaitu:

v RE. Granuler (Rough E.R)

v RE. Agranuler (Smooth E.R)

Fungsi R.E. adalah sebagai alat transportasi zat-zat di dalam sel itu sendiri. Struktur R.E. hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.

b. Ribosom (Ergastoplasma)

Struktur ini berbentuk bulat terdiri dari dua partikel besar dan kecil, ada yang melekat sepanjang R.E. dan ada pula yang soliter. Ribosom merupakan organel sel terkecil yang tersuspensi di dalam sel. Fungsi dari ribosom adalah tempat sintesis protein. Struktur ini hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron.

c. Miitokondria (The Power House)

Struktur berbentuk seperti cerutu ini mempunyai dua lapis membran. Lapisan dalamnya berlekuk-lekuk dan dinamakan Krista. Fungsi mitokondria adalah sebagai pusat respirasi seluler yang menghasilkan banyak ATP (energi); karena itu mitokondria diberi julukan “The Power House”.

d. Lisosom

Fungsi dari organel ini adalah sebagai penghasil dan penyimpan enzim pencernaan seluler. Salah satu enzimnya itu bernama Lisozym.

e. Badan Golgi (Apparatus Golgi = Diktiosom)

Organel ini dihubungkan dengan fungsi ekskresi sel, dan struktur ini dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa. Organel ini banyak dijumpai pada organ tubuh yang melaksanakan fungsi ekskresi, misalnya ginjal.

f. Sentrosom (Sentriol)

Struktur berbentuk bintang yang berfungsi dalam pembelahan sel (Mitosis maupun Meiosis). Sentrosom bertindak sebagai benda kutub dalam mitosis dan meiosis. Struktur ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron.

g. Plastida

Dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Dikenal tiga jenis plastida yaitu :

1. Lekoplas (plastida berwarna putih berfungsi sebagai penyimpan makanan), terdiri dari:

v Amiloplas (untak menyimpan amilum) dan,

v Elaioplas (Lipidoplas) (untukmenyimpan lemak/minyak).

v Proteoplas (untuk menyimpan protein).

2. Kloroplas, yaitu plastida berwarna hijau. Plastida ini berfungsi menghasilkan klorofil dan sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis.

3. Kromoplas, yaitu plastida yang mengandung pigmen, misalnya:

v Karotin (kuning)

v Fikodanin (biru)

v Fikosantin (ungu)

v Fikoeritrin (merah)

h. Vakuola (Rongga Sel)

Beberapa ahli tidak memasukkan vakuola sebagai organel sel. Benda ini dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Selaput pembatas antara vakuola dengan sitoplasma disebut Tonoplas. Vakuola berisi :

v garam-garam organik

v glikosida

v tanin (zat penyamak)

v minyak eteris (misalnya Jasmine pada melati, Roseine pada mawar, Zingiberine pada jahe)

v alkaloid (misalnya Kafein pada kopi, Kinin, Nikotin pada tembakau, Likopersin pada tomat dan Iain-lain)

v enzim

v butir-butir pati

Pada beberapa spesies dikenal adanya vakuola kontraktil dan vakuola non kontraktil.

i. Mikrotubulus

Berbentuk benang silindris, kaku, berfungsi untuk mempertahankan bentuk sel dan sebagai “rangka sel”. Contoh organel ini antara lain benang-benang gelembung pembelahan. Selain ilu mikrotubulus berguna dalam pembentakan Sentriol, Flagela dan Silia.

j. Mikrofilamen

Seperti Mikrotubulus, tetapi Iebih lembut. Terbentuk dari komponen utamanya yaitu protein aktin dan miosin (seperti pada otot). Mikrofilamen berperan dalam pergerakan sel.

k. Peroksisom (Badan Mikro)

Ukurannya sama seperti Lisosom. Organel ini senantiasa berasosiasi dengan organel lain, dan banyak mengandung enzim oksidase dan katalase (banyak disimpan dalam sel-sel hati).

3. Inti SeI (NukIeus)

Inti sel terdiri dari bagian-bagian yaitu :

a. Selaput Inti (Karioteka)

b. Nukleoplasma (Kariolimfa)

c. Kromatin / Kromosom

d. Nukleolus (anak inti).

Berdasarkan ada tidaknya selaput inti kita mengenal 2 penggolongan sel yaitu :

a. Sel Prokariotik (sel yang tidak memiliki selaput inti), misalnya dijumpai pada bakteri, ganggang biru.

b. Sel Eukariotik (sel yang memiliki selaput inti).

Fungsi dari inti sel adalah : mengatur semua aktivitas (kegiatan) sel, karena di dalam inti sel terdapat kromosom yang berisi ADN yang mengatur sintesis protein.